Reviews: Accidentally AADC2

Wednesday, May 11, 2016


Salam! Senangnya saya bisa kembali menulis di blog ini yang sudah terlalu lama saya abaikan karena satu dan beberapa hal. Ada banyak yang ingin sekali saya tuliskan ke dalam blog ini, tetapi karena ini adalah tulisan pertama setelah hiatus selama ber-abad-abad (hehe) jadi harap maklum yaa. 

Baiklah, kali ini saya mencoba membahas tentang film Indonesia yang sedang naik daun belum lama ini. Yup! Apalagi kalau bukan AADC 2. Tapi sebelum saya menulis panjang lebar, saya ingatkan ya, saya sama sekali bukan penggemar AADC garis keras, bukan juga pengamat dan komentator film, hanya seorang awam yang ingin berbagi opini tentang film ini. Dalam tulisan saya kali ini, saya hanya sekedar membahas tentang kebetulan-kebetulan yang terjadi selama film ini berlangsung.
Mungkin, jika Anda belum menonton AADC 2, berhenti membaca sampai paragraph ini, karena saya akan banyak spoilers. Jika Anda juga penggemar garis keras, apabila di akhir tulisan saya tidak sesuai dengan harapan, jangan di-bully ya!

Kita mulai dari film pertama AADC dulu ya. Pada saat pemutaran film AADC tahun 2002, saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama, jadi ya hanya sebatas ikut-ikutan euphoria-nya saja. Beberapa kali saya juga memutar kembali film ini, sekedar untuk benar-benar mengerti jalan ceritanya.
Sampai akhirnya masyarakat dihebohkan dengan publikasi film AADC 2 lewat mini series LINE di youtube selama tidak lebih dari setengah jam. Saya yang pada saat itu sedang berada di kantor sempat menitikkan air mata ketika menonton  tayangan singkat pertemuan Cinta dengan sahabat-sahabatnya dan yang pastinya, pertemuan kembali Cinta dengan Rangga. Tak perlu saya jelaskan lagi alur ceritanya, tetapi saya yakin kita semua merasakan hal yang sama, bukan?
Harap-harap cemas menanti apakah AADC akan dibuat lanjutannya karena kita sudah terlanjur dibawa baper lewat mini series LINE. Sampai akhirnya film AADC 2 resmi dipublikasikan dan tayang pada 28 April 2016. Dan saya berkesempatan untuk menonton film tersebut atas rayuan bujuk rayu suami saya, karena dia tahu jika saya lebih memilih AADC 2 dibanding dengan Civil War. 

Antusias masyarakat heboh sekali, sampai saya menonton AADC 2 yang sudah berjarak 10 hari dari hari pertama film ini perdana diputar, masih banyak yang mengantri untuk menonton film ini. Singkat cerita, saya berharap jika saya akan kembali meneteskan air mata saat menikmati film ini. Tetapi, harapan saya semakin pudar seiring berjalannya alur cerita hingga film usai. Bukannya terbawa dengan suasana nostalgia Cinta dan Rangga, atau Cinta dengan Maura, Carmen, Milly, tetapi justru terbawa suasana Jogjakarta dan Brooklyn. Sekedar intermezzo, dua kota tersebut termasuk kota favorit saya, jika Jogja adalah kota yang sering saya kunjungi dan tak pernah bosan untuk kembali dikunjungi, sedangkan Brooklyn adalah kota yang saya ingin datangi, bukan karena AADC 2 lho ya.

Di awal-awal cerita, film masih berjalan sangat normal. Pertemuan kembali sahabat-sahabat lama, dan berencana untuk merayakan reuni mereka ke Jogja. Tetapi seakan film ini mencari benang merah, semua terjadi sangat kebetulan. Diceritakan dalam film ada momen di mana Rangga kangen sama Cinta sambil liat foto mereka berdua saat di New York tahun 2006, dan di saat yang sama Cinta juga sedang melihat foto yang sama, dan kemudian mereka secara terpisah menjadi galau. Ini yang menurut saya menjadi ‘kebetulan’ awal di film ini. 

Jika Cinta dan kawan-kawan sudah pasti ke Jogja, bagaimana dengan Rangga? Kemudian diciptakan suasana dimana saat officemate Rangga menyarankan dia untuk liburan kembali ke Jakarta, di saat yang sama datanglah seorang perempuan yang mengaku adik tiri Rangga. Iya, sang adik datang seorang diri, ke Brooklyn, dan dia pun sudah berkeliling kota-kota besar di Amerika Serikat hanya untuk mencari Rangga. Tujuan sang adik datang menemui Rangga hanya sekedar memberi informasi jika ibunda Rangga ingin sekali bertemu dengan Rangga. Dan rumah sang ibu berada di Jogja. Disini saya mulai ber-spekulasi kembali, kebetulan lagi kah?
Apabila Cinta dan kawan-kawan hanya untuk reuni dan berlibur di Jogja, lain hal dengan Rangga yang berniat untuk datang ke rumah ibunya. Di waktu yang bersamaan, Cinta sampai Jogja, Rangga pun demikian. Dan di saat yang bersamaan juga Cinta dan Rangga lebih memilih satu area yang sama sebagai tempat pertama yang didatangi di Jogja. Sebesar-besarnya cinta sejati, masa iya semuanya serba sama dan kebetulan? Tetapi, saya kembali berpikir, jika Cinta lebih memilih daerah Malioboro, dan Rangga lebih memilih di daerah Kaliurang saja, mungkin mereka tidak pernah bertemu. 

Sampai akhirnya tercipta momen dimana Rangga bertemu dengan Cinta. Pertemuan Rangga dan Cinta terjadi empat kali dalam film ini. Pertama, saat di pameran galeri seni. Kedua dan ketiga, saat di café, tetapi satu di Jogja, dan satu di Jakarta. Keempat, saat di Brooklyn. Setelah pertemuan pertama yang saya rasa tidak berjalan dengan mulus, Rangga kembali bertemu dengan Cinta dan berhasil mengajak Cinta jalan-jalan keliling Jogja seharian. Dalam perjalanan keliling Jogja yang saya rasa sangat melelahkan, bayangkan saja, dalam sehari mereka berdua sudah mendatangi tempat-tempat seperti candi, berbagai macam café, dan hutan-hutan, tetapi mereka sama sekali tidak menunjukkan wajah kelelahan dan wajah Cinta pun sama sekali tidak berminyak dan telihat kusam meski seharian keliling Jogja. 
Nostalgia singkat namun sarat makna antara Rangga dan Cinta selama di Jogja membuat penonton menjadi harap-harap cemas. Cinta saat itu statusnya sudah bertunangan dengan seorang eksekutif muda yang karakternya dibuat sok sibuk dan tidak terlalu romantis. Sedangkan Rangga, tinggal menunggu jawaban sambil berharap-harap cemas. Karena saya tahu, pasti akhir cerita Rangga harus bersatu kembali dengan Cinta, tetapi bagaimana cara untuk memutuskan pertunangan Cinta dengan Trian (tunangan Cinta), diciptakan lagi momen yang secara kebetulan Rangga berpapasan dengan Trian ketika Rangga mendatangi Cinta di galeri café milik Cinta. Di situlah akhirnya ‘kebetulan’ yang diharapkan oleh penonton terjadi dan semakin menunjukkan akhir yang bahagia.
Meski saya akui lebih memilih akhir cerita yang bahagia, tetapi jalan cerita AADC 2 sudah sangat bisa diprediski. Seperti kebanyakan film drama percintaan yang berakhir bahagia, romantisme Rangga dan Cinta tidaklah jauh beda. Tidak ada hal yang dapat membuat saya meneteskan air mata, kesedihan maupun kebahagiaan, selama film berlangsung. Terlalu banyak hal kebetulan yang diciptakan demi menghasilkan cerita yang diinginkan dan disukai oleh penonton, yang sudah sekian lama menanti kelanjutan hubungan mereka berdua. Selain itu juga, menurut saya film ini terlalu komersil karena terlalu banyak menampilkan sponsor merek barang atau tempat. 

You Might Also Like

0 comments

Subscribe